Kamis, 10 Maret 2011

Supernova


Supernova adalah ledakan dari suatu bintang di galaksi yang memancarkan energi lebih banyak dari nova. Peristiwa supernova ini menandai berakhirnya riwayat suatu bintang. Bintang yang mengalami supernova akan tampak sangat cemerlang dan bahkan kecemerlangannya bisa mencapai ratusan juta kali cahaya bintang tersebut semula, beberapa minggu atau bulan sebelum suatu bintang mengalami supernova bintang tersebut akan melepaskan energi setara dengan energi matahari yang dilepaskan matahari seumur hidupnya, ledakan ini meruntuhkan sebagian besar material bintang pada kecepatan 30.000 km/s (10% kecepatan cahaya) dan melepaskan gelombang kejut yang mampu memusnahkan medium antarbintang.

Ada beberapa jenis Supernova. Tipe I dan II bisa dipicu dengan satu dari dua cara, baik menghentikan atau mengaktifkan produksi energi melalui fusi nuklir. Setelah inti bintang yang sudah tua berhenti menghasilkan energi, maka bintang tersebut akan mengalami keruntuhan gravitasi secara tiba-tiba menjadi lubang hitam atau bintang neutron, dan melepaskan energi potensial gravitasi yang memanaskan dan menghancurkan lapisan terluar bintang.


Jenis-jenis Supernova

Supernova Keples
Berdasarkan pada garis spektrum pada supernova, maka didapatkan beberapa jenis supernova :
  • Supernova Tipe Ia
Pada supernova ini, tidak ditemukan adanya garis spektrum Hidrogen saat pengamatan.
  • Supernova Tipe Ib/c
Pada supernova ini, tidak ditemukan adanya garis spektrum Hidrogen ataupunHelium saat pengamatan.
  • Supernova Tipe II
Pada supernova ini, ditemukan adanya garis spektrum Hidrogen saat pengamatan.
  • Hipernova
Supernova tipe ini melepaskan energi yang amat besar saat meledak. Energi ini jauh lebih besar dibandingkan energi saat supernova tipe yang lain terjadi.

Berdasarkan pada sumber energi supernova, maka didapatkan jenis supernova sebagai berikut.
  • Supernova Termonuklir (Thermonuclear Supernovae)
    • Berasal dari bintang yang memiliki massa kecil
    • Berasal dari bintang yang telah berevolusi lanjut
    • Bintang yang meledak merupakan anggota dari sistem bintang ganda.
    • Ledakan menghancurkan bintang tanpa sisa
    • Energi ledakan berasal dari pembakaran Karbon (C) dan Oksigen (O)
  • Supernova Runtuh-inti (Core-collapse Supernovae)
    • Berasal dari bintang yang memiliki massa besar
    • Berasal dari bintang yang memiliki selubung bintang yang besar dan masih membakar Hidrogen di dalamnya.
    • Bintang yang meledak merupakan bintang tunggal (seperti Supernova Tipe II), dan bintang ganda (seperti supernova Tipe Ib/c)
    • Ledakan bintang menghasilkan objek mampat berupa bintang neutron ataupun lubang hitam (black hole).
    • Energi ledakan berasal dari tekanan

[sunting]Tahapan terjadinya Supernova

Suatu bintang yang telah habis masa hidupnya, biasanya akan melakukan supernova. Urutan kejadian terjadinya supernova adalah sebagai berikut.
  • Pembengkakan
Bintang membengkak karena mengirimkan inti Helium di dalamnya ke permukaan. Sehingga bintang akan menjadi sebuah bintang raksasa yang amat besar, dan berwarna merah. Di bagian dalamnya, inti bintang akan semakin meyusut. Dikarenakan penyusutan ini, maka bintang semakin panas dan padat.
  • Inti Besi
Saat semua bagian inti bintang telah hilang, dan yang tertinggal di dalam hanyalah unsur besi, maka kurang dari satu detik kemudian suatu bintang memasuki tahap akhir dari kehancurannya. Ini dikarenakan struktur nuklir besi tidak memungkinkan atom-atom dalam bintang untuk melakukan reaksi fusi untuk menjadi elemen yang lebih berat.
  • Peledakan
Pada tahap ini, suhu pada inti bintang semakin bertambah hingga mencapai 100 miliar derajat celcius. Kemudian energi dari inti ini ditransfer menyelimuti bintang yang kemudian meledak dan menyebarkan gelombang kejut. Saat gelombang ini menerpa material pada lapisan luar bintang, maka material tersebut menjadi panas. Pada suhu tertentu, material ini berfusi dan menjadi elemen-elemen baru dan isotop-isotop radioaktif.
  • Pelontaran
Gelombang kejut akan melontarkan material-material bintang ke ruang angkasa


Dampak dari Supernova

Supernova memiliki dampak bagi kehidupan di luar bintang tersebut, di antaranya:
  • Menghasilkan Logam
Pada inti bintang, terjadi reaksi fusi nuklir. Pada reaksi ini dilahirkan unsur-unsur yang lebih berat dari Hidrogen dan Helium. Saat supernova terjadi, unsur-unsur ini dilontarkan keluar bintang dan memperkaya awan antar bintang di sekitarnya dengan unsur-unsur berat.
  • Menciptakan Kehidupan di Alam Semesta
Supernova melontarkan unsur-unsur tertentu ke ruang angkasa. Unsur-unsur ini kemudian berpindah ke bagian-bagian lain yang jauh dari bintang yang meledak tersebut. Diasumsikan bahwa unsur atau materi tersebut kemudian bergabung membentuk suatu bintang baru atau bahkan planet di alam semesta

Peristiwa Supernova yang teramati

Supernova 1994D
Ada satu bintang yang melakukan supernova di ruang angkasa tiap satu detik kehidupan di bumi. Hanya saja, untuk menemukan bintang yang akan melakukan supernova tersebut amatlah sulit. Banyak faktor yang memengaruhi dalam pengamatan supernova. Walaupun begitu, ada beberapa peristiwa supernova yang telah teramati oleh manusia, di antaranya:
  • Supernova 1994D
Dahulu kala, sebuah bintang meledak di tempat yang amat jauh dari bumi. Ledakan itu tampak seperti sebuah titik terang. Ini terjadi di bagian luar darigalaksi NGC 4526, dan dinamakan Supernova 1994D. Sinar yang dipancarkannya selama beberapa minggu setelah ledakan tersebut menunjukkan bahwa supernova tersebut merupakan Supernova Tipe Ia

Charon (Bulan)


Charon ditemukan tahun 1978, adalah bulan terbesar Pluto dan salah satu anggota planet katai ganda dengan Pluto sebagai anggota lainnya, bergantung pada definisi. Dengan penemuan dua bulan Pluto lainnya (Nixdan Hydra), Charon kini disebut Pluto I. Misi pesawat angkasa New Horizons dijadwalkan mengunjungi Charon dan Pluto pada Juli 2015.
Gambaran artis mengenai Charon dari permukaan Pluto.
Charon ditemukan oleh astronom James Christy pada tanggal 22 Juni 1978, ketika ia memeriksa gambar Pluto yang diperbesar. Christy menyadari bahwa bagian kecil yang menonjol muncul pada waktu tertentu. Charon awalnya disebut S/1978 P 1Pada 24 Juni 1978, Christy mengusulkan nama Charon.
Charon memiliki diameter sebesar 1.207 km, sekitar setengah dari diameter Pluto, dengan luas permukaan sebesar 4.580.000 km². Tidak seperti Pluto yang dilapisinitrogen dan es metana, permukaan Charon didominasi oleh es dan tidak memiliki atmosfer.

Komet Halley Tercatat Sejak Zaman Yunani Kuno


Komet Haley kemungkinan telah terlihat dari Bumi sekitar 466 SM, menurut sejumlah peneliti.
Sejumlah bukti baru menunjukkan bahwa peristiwa langit yang telah disaksikan orang Yunani kuno, kemungkinan merupakan penampakan awal komet Halley.
Menurut beberapa penulis kuno, sebuah meteor raksasa telah menghantam Yunani antara 466 SM dan 467 SM.
Penulis-penulis itu juga menjelaskan sebuah komet di langit pada saat meteorit jatuh ke Bumi, namun secara rinci hal ini telah memperoleh sedikit perhatian serius, ujar para peneliti.
Komet Halley terlihat selama hampir 80 hari pada 466 SM, para peneliti menulisnya dalam jurnal Kosmologi.
Menurut laporan New Scientist, hingga kini, awal terlihatnya komet tersebut adalah saat mengorbit pada 240 SM, sebuah peristiwa yang dicatat oleh para astronom Tiongkok kuno.
Karena temuan ini baru dikonfirmasi, para peneliti telah menetapkan tanggal pertama diamatinya komet Halley adalah sekitar 226 tahun.
Buah pikiran baru ini berdasarkan catatan para penulis kuno. Dan sejumlah perhatian tentang meteorit dikatakan bahwa benda angkasa ini pernah menghantam Hellespont, wilayah utara Yunani sekitar 466-467 SM.
Benda angkasa seukuran 'gerbong' ini jatuh pada siang hari, menurut sejumlah sumber kuno.
Benda yang digambarkan sebagai obyek berwarna hangus itu telah menjadi tempat wisata selama lebih dari 500 tahun.

Terlihat di Barat

Dalam karya meteorologinya, aristoteles telah menulis tentang peristiwa sekitar seabad setelah hal itu terjadi. Ia mengungkap jatuhnya meteorit serupa, "sebuah komet terlihat di sebelah barat."
Astronom Eric Hintz dan filsuf Daniel Graham, dari Universitas Brigham Young di Provo, Utah, telah merekonstruksi kemungkinan alur yang dilalui komet Haley, untuk membandingkan apakah sesuai dengan pengamatan kuno.

Komet Halley digambarkan di Bayeux Tapestry, pada abad ke-11. (Getty Images)
Mereka mengkalkulasikan bahwa komet Halley bisa terlihat sekitar 80 hari antara bulan Juni awal dan akhir Agustus 466 SM - tergantung pada kondisi atmosfir dan gelapnya langit.
"Sulit kembali ke waktu lampau. Hal ini tidak seperti gerhana, yang benar-benar dapat diprediksi," penulis Eric Hintz, mengatakan kepadaBBC News.
"Namun kami rasa ini cukup wajar. Jika penampakan pada 240 SM dapat diterima, karena kemungkinannya cukup besar."
Ia menambahkan, "Jika diterima, hal ini akan menjadi tiga orbit lebih awal dari penampakan bangsa Tiongkok kuno."
Rekonstruksi alur komet itu sesuai dengan sejumlah laporan kuno, yang mengatakan, komet tersebut terlihat sekitar 75 hari.
Para peneliti mengatakan bahwa bangsa Tiongkok kuno dan Babylonia menyimpan dengan baik catatan-catatan sejumlah fenomena langit selama berabad-abad, sedangkan bangsa Yunani kuno tidak.
Meskipun demikian, penjabaran Yunani kuno tentang penampakan komet telah memberikan informasi penting, ujar Graham dan Hintz.
Para peneliti mengatakan bahwa masih terdapat kemungkinan adanya penampakan kuno lainnya dari komet yang dapat ditemukan dari catatan bangsa Tiongkok kuno dan Babylonia. 

Selasa, 01 Maret 2011

Kenangan

Saat menutup mata
Kenangan itu akan terulang
Saat aku bertemu denganmu
Terkadang aku tak ingin memikirkan masa depan

Aku hanya ingin berpikir, kamu ada bersamaku
Tak ada yang lain, tak ada yang lain
Tak ada orang lain. Tak ada masa depan

Hanya saat saat ini yang akan terus ada
Tapi nyatanya tak akan seperti itu
Terkadang kita harus merelakan apa yang ada
Masih kuingat, saat bertemu di sekolah

Kita masih bingung akan hal baru
Tak kusangka akan secepat ini berpisah
Aku sendiri tak mengerti apa yang terjadi
Waktu terasa begitu cepat

Tak terasa hal-hal menyenangkan itu
Telah menjadi kenangan
Kenangan indah, dan kenangan pahit

Saat kita tertawa bersama, saat kita menangis bersama
Saat kita mengalami hal-hal sulit
Namun itu semua dapat kita lewati
Karena kita tetap saling percaya dengan apapun yang terjadi

Tak kusangka itu semua telah menjadi kenangan
Tak kan ada lagi tawa kita bersama disekolah
Tak kan ada lagi kita yang berisik disekolah

Sekolah akan semakin berbeda dengan perginya kita
Kenangan ini seakan semakin menyayatku
Aku tak ingin semua ini pergi

Kalian yang susah payah kujadikan sahabat
Kalian yang susah payah kujadikan teman seperjuangan
Akan pergi dengan mudahnya

Semoga kita tak mudah untuk dipisahkan
Semoga kita masih bisa bertemu
Semoga kalian tak melupakanku
Dan semua kenangan yang telah kita ukir serta alami bersama..
Semoga.. :) 

Dan kalian harus tetap ingat, bahwa
Aku menyayangi kalian :)

Mengenal Suku Inca


Suku Inca merupakan Suku indian yang bermukim di pegunungan Andes (Peru) pada abad ke-10 hingga ke-16 Masehi. Pusat pemerintahannya adalah di Cuzco, yang berada di ketinggian 3362 meter dari permukaan laut. Menurut legenda, kota Cuzco ditemukan oleh Manco Capac, pemimipin mereka yang pertama.
Pemimpin Suku Inca disebut Inca, dan dipercaya sebagai keturunan Dewa Matahari. Suku Inca hidup dari bercocok tanam. Mereka membangun sistem irigasi dan kanal-kanal. Lereng-lereng gunung dibuat sedemikian rupa sehingga bisa digunakan untuk bercocok tanam. Oleh karena langkanya kayu, rumah mereka dibuat dari batu dan jerami. Dan sebagai pemanas, mereka membuat perapian dari kotoran hewan yang telah dikeringkan.
Meskipun belum mengenal kendaraan beroda, jalan-jalan sudah dibangun. Kota dan benteng sebagian besar dibangun di dataran tinggi dan di sisi-sisi curam pegunungan Andes. Bangunan dibuat dari batu-batu yang dibentuk dengan hati-hati sehingga pas untuk dipasang. Konstruksi bangunan mereka diakui sebagai yang terbaik di dunia. Bangunan-bangunan mereka yang terkenal antara lain benteng Sacasahuman, tempat pemandian Tambomachay, altar di Kenko dan Lako serta kota Machu Picchu.
Tanda-tanda keruntuhan Suku Inca mulai diramalkan ketika seekor burung elang (simbol Dewa Matahari) jatuh ke kaki Inca. Hal ini kemudian disusul dengan terjadinya gempa bumi, hempasan ombak besar serta berjangkitnya penyakit yang menewaskan ribuan orang. Tak lama kenudian, bangsa Spanyol tiba.
Bangsa Spanyol berhasil menguasai seluruh wilayah Suku Inca pada tahun 1533. bangunan-bangunan Suku Inca dirusak serta harta karunnya dikuras habis. Kekuasaan bangsa Spanyol baru berakhir pada akhir tahun 1820-an.
Mendekati akhir abad ke-19 dan memasuki abad ke-20, beberapa tempat bersejarah Suku Inca direnovasi. Penemuan kota Machu Picchu di dekat Cuzco pada tahun 1911 membuat perubahan pada Cuzco. Tempat-tempat ini kemudian dijadikan daerah wisata.
Yang Unik-Unik
· Untuk menghormati Dewa Matahari, dinding kuil Coricancha dilapisi lembaran emas. Setelah ditimbang, ternyata berat totalnya mencapai 1,400 ton!!!
· Suku Inca percaya bahwa orang yang mati masih merupakan bagian dari mereka. Oleh karena itu, orang yang meninggal dijadikan mumi dan masih dilibatkan dalam berbagai perayan penting. Baju bagus dikenakan, duduk di kursi emas, makanan dan minimuan ditawarkan, malah bahkan ada yang sampai disediakan ruangan serta pelayan khusus.
· Inca mendapat perlakuan yang sangat istemewa. Baju terbuat dari emas yang langsung dibakar setelah dipakai, tinggal di istana yang besar, diperlakukan bagai dewa, diangkut dengan tandu emas, serta memakai perabotan dari emas. Selain itu, wajahnya selalu tersembunyi di balik bahan yang sangat halus karena dianggap terlalu kuat untuk dilihat oleh mata orang biasa.

Venus

Orang-orang Babylonia menyebutnya "Ishtar". Bagi bangsa Maya, ia dikenal sebagai "Chak ek" yang artinya bintang besar. Beberapa astronom jaman dulu bahkan mengiranya sebagai dua objek yang berbeda: "bintang pagi" dan "bintang senja".
Venus, "bintang" yang dimaksud di atas, adalah objek paling terang di langit setelah Matahari dan Bulan. Tak heran bila planet kedua dari Matahari tersebut telah menarik perhatian manusia sejak berabad-abad lalu.



Venus, planet misterius yang ditutupi awan tebal







Namun seiring dengan majunya penelitian astronomi, pamor Venus justru memudar. Ia kalah populer untuk diteliti dibanding Mars atau Jupiter misalnya. Ini mungkin disebabkan karena para ilmuwan yakin tidak akan menemukan apa-apa di sana, mengingat suhu permukaannya yang sepanas oven.
Baru Rabu (9/11), diluncurkan wahana peneliti ke Venus setelah satu dekade tidak ada misi ke tetangga terdekat kita itu. Wahana Venus Express milik Eropa akan sampai di orbit Venus lima bulan mendatang guna melakukan observasi.

Misi itu bermaksud untuk mengungkap misteri mengenainya: Bagaimana planet yang awalnya sangat mirip dengan Bumi itu - dalam hal ukuran, massa, dan komposisi - telah berevolusi menjadi sesuatu yang sangat berbeda selama 4,6 milyar tahun.
Atmosfer Venus telah menyebabkan efek rumah kaca yang hebat, dimana panas Matahari yang masuk, tidak bisa keluar. Akibatnya permukaan planet menjadi sangat panas, rata-rata 467 derajat Celcius, cukup panas untuk melelehkan timah.
Atmosfer padat yang sebagian besar terisi karbon dioksida itu juga menimbulkan tekanan hingga 90 kali lebih besar daripada tekanan di Bumi.


Visi Eksotis



Venus Express dikirm ke Venus untuk meneliti atmosfernya






Nah, dengan mengambil contoh apa yang terjadi pada Venus, para ilmuwan berharap bisa mengetahui mekanisme perubahan iklim yang mungkin akan menimpa planet kita.
"Bumi bisa berevolusi menjadi seperti Venus, walau perubahannya tidak sama persis," kata Fred Taylor, Profesor Fisika di Universitas Oxford, Inggris. "Yang jelas kita mengarah pada kondisi dengan mekanisme serupa. Bahkan perubahan temperatur sedikit saja bisa menjadi bencana di Bumi."
Mempelajari Venus akan bisa membantu melakukan analisa model komputer guna meramalkan perubahan iklim yang bakal terjadi di Bumi. "Venus merupakan contoh hasil proses evolusi bagi kita," kata Andrew Coates, dari Laboratorium Ilmu Pengetahuan Ruang Angkasa Mullard, University College London, Inggris.
Hal lain yang unik di Venus adalah walaupun ia lebih dekat dengan Matahari, namun atmosfernya lebih reflektif. Sedikit saja cahaya yang masuk, dan sebagian besar dipantulkan.
"Venus sebenarnya menyerap lebih sedikit panas Matahari dibanding Bumi. Secara sepintas, kita mungkin akan berpikir kondisi di sana seharusnya tidak jauh berbeda," lanjut Coates. "Namun atmosfernya memerangkap panas yang hanya sedikit itu sehingga menjadikan permukaannya sama sekali tidak senyaman Bumi."


Tanah Misterius




Foto permukaan Venus yang diambil wahana Uni Soviet, Venera 13




Karena Venus tertutup awan buram setebal 25 kilometer yang menghalangi pandangan ke permukaannya, maka berbagai tafsiran digambarkan oleh para pengarang fiksi ilmiah jaman dahulu. Ada yang melukiskan permukaan Venus diselimuti hutan lebat, ada yang menduga berawa-rawa, dan ada yang menduganya sebagai lautan luas.
Itu sebelum wahana-wahana tanpa awak dikirim untuk menyelidikinya. Antara tahun 1961 dan 1989, AS dan Uni Soviet meluncurkan lebih dari 30 wahana ke Venus. Beberapa mencapai tujuannya, sebagian lagi tidak.
Wahana Mariner 2 milik AS adalah yang pertama berhasil terbang mendekati Venus tahun 1962. Ia mengabarkan tingginya suhu di permukaan planet tersebut.
Misi selanjutnya, memberi informasi mengenai ketebalan dan komposisi kimia lapisan awan di sana, serta beberapa data kondisi permukaan Venus.
Adapun wahana yang pertama kali mendarat di planet adalah Venera 7 milik Uni Soviet. Ia bertahan hingga 20 menit sebelum remuk karena tekanan tinggi dan suhu yang amat panas. Penerusnya, Venera 9, mengirimkan foto-foto pertama dari Venus.
Setelah itu dikirim juga beberapa wahana pengorbit yang melakukan survey radar, menembus awan tebal venus untuk memetakan permukaannya. Yang paling utama di antaranya adalah wahana Magellan milik NASA yang mengelilingi Venus delapan kali sehari antara tahun 1990 hingga 1994.

"Salju" metalik
Foto-foto Magellan menunjukkan permukaan "muda" dimana aktivitas vulkanisme telah menghilangkan jejak-jejak masa lalu. Gunung api dari berbagai jenis dan ukuran tersebar di dataran luas Venus. Mereka muncul karena desakan lava yang mengalir di perut planet.
Pertanyaannya, apakah dahulu Venus juga pernah memiliki permukaan yang dialiri air atau laut?
"Venus dilahirkan dengan kondisi seperti Bumi. Artinya di sana pernah ada air. Sebagian air mungkin berasal dari komet," kata Andrew Coates.
Apakah air tersebut sudah lama mendidih, menciptakan efek rumah kaca dan menjadikan Venus sebagai salah satu tempat paling gersang di tata surya? Itu masih menjadi dugaan.
Magellan juga mendapati bahwa dataran-dataran tinggi Venus sangat terang, memantulkan sinyal radar lebih baik dibanding wilayah rendah. Beberapa teori telah diajukan untuk menjelaskan fenomena itu, mulai dari adanya tanah lepas hingga adanya lapisan "salju" metalik di sana.
Diduga, di wilayah rendah yang lebih panas, sebagian logam akan menguap dan berubah wujud sebagai kabut logam. Namun di tempat yang lebih tinggi dan lebih dingin, kabut itu bisa mengembun menjadi lapisan tipis logam di permukaan tanah.
Dari apakah lapisan logam itu terbentuk, ada yang menyebutnya logam langka tellurium dan besi pyrit alias ’emas palsu’. Tapi penelitian terakhir yang dilakukan tim dari Universitas Washington di St Louis menyebut salju metalik itu lebih mungkin terbentuk dari sulfida timah atau bismuth.


Hujan asam

Awan yang sangat reflektif membuat Venus menyerap lebih sedikit cahaya Matahari dibanding Bumi










Menurut Fred Taylor, efek rumah kaca di Venus muncul dan dipengaruhi oleh vulkanisme. Gunung-gunung api aktif diperkirakan telah melepaskan sejumlah besar karbon dioksida ke atmosfer.
Uap air dari permukaan mungkin bereaksi dengan karbon dioksida memerangkap radiasi Matahari dan memanaskan planet. Perlu diketahui, uap air adalah gas rumah kaca yang lebih kuat dibanding karbon dioksida.
Matahari kemudian memisahkan air menjadi unsur-unsur penyusunnya, yakni hidrogen dan oksigen.
Tidak seperti Bumi, Venus tidak dilindungi medan magnet, sehingga partikel-partikel bisa dengan mudah lolos dari bagian atas atmosfernya. Ini membuat hidrogen yang ringan terlepas dari Venus, meninggalkan unsur lain yang lebih berat di planet.
"Di Bumi, jumlah karbon dioksida terkendali karena ia terlarut di permukaan air. Itu sebabnya di dasar laut kita mendapati endapan karbonat," jelas Dr Coates. "Kebalikannya di Venus tidak ada air dan tidak ada tempat tinggal bagi karbon dioksida, sehingga semua terlepas ke atmosfer."
Kini atmosfer Venus hampir seluruhnya (97 persen) terdiri dari karbon dioksida, dengan awan-awan yang mengandung butiran asam belerang dan senyawa klorin dan fluorin. Awan tersebut turun sebagai hujan asam yang disebut virga, namun menguap sebelum mencapai permukaan planet.
Sementara di bagian atas atmosfer, awan bergulung-gulung dengan kecepatan 300 kilometer/jam, akibat hembusan angin yang ganas.
Venus sendiri berotasi secara lambat dengan arah dari timur ke barat. Planet melakukan putaran atas sumbunya sekali setiap 243 hari Bumi. Artinya satu hari Venus sama dengan 243 hari Bumi.
Ini sesuatu hal yang aneh karena Venus mengelilingi Matahari dalam waktu 225 hari Bumi. Bila kita berada di sana, kita akan mempunyai kesan bahwa satu hari Venus akan lebih lama dibanding satu tahun.
Venus di masa mendatang
Saat ini para peneliti tidak tahu sampai kapan kondisi seperti yang sekarang ada di Venus akan berlangsung. Menurut salah satu teori, temperatur tinggi di permukaannya akan tetap stabil karena interaksi yang kompleks antara atmosfer dan mineral di bebatuan planet. Namun tentu saja harus ada kontak intensif antara atmosfer dengan permukaan Venus. Di pihak lain, bila kita menganggap pemanasan rumah kaca di sana disebabkan karena vulkanisme, maka kondisi Venus akan berubah dalam waktu yang relatif tidak lama.
"Pada titik tertentu, vulkanisme akan mati, seperti yang terjadi di Mars dahulu dan di beberapa bagian Bumi," kata Fred Taylor.
"Ketiadaan vulkanisme ini akan berpengaruh pada suhu dan tekanan di sana. Dengan matinya vulkanisme, tidak ada karbon dioksida yang ditambahkan ke atmosfer. Sungguh menarik membayangkan apa yang akan terjadi kemudian," lanjutnya.
Bila seperti itu kejadiannya, diramalkan kondisi ganas di Venus akan menjadi lebih jinak, dan planet itu akan menjadi lebih mirip Bumi.
"Mungkin lautan akan kembali bila ada cukup uap air untuk turun sebagai hujan. Dan bila laut kembali, karbon dioksida akan terlarut dan menghilang dari atmosfer."
"Pada akhirnya kita akan mendapatkan Venus yang mirip dengan apa yang dibayangkan orang-orang pada tahun 1950-an."