Venus, "bintang" yang dimaksud di atas, adalah objek paling terang di langit setelah Matahari dan Bulan. Tak heran bila planet kedua dari Matahari tersebut telah menarik perhatian manusia sejak berabad-abad lalu.

Venus, planet misterius yang ditutupi awan tebal
Namun seiring dengan majunya penelitian astronomi, pamor Venus justru memudar. Ia kalah populer untuk diteliti dibanding Mars atau Jupiter misalnya. Ini mungkin disebabkan karena para ilmuwan yakin tidak akan menemukan apa-apa di sana, mengingat suhu permukaannya yang sepanas oven.
Baru Rabu (9/11), diluncurkan wahana peneliti ke Venus setelah satu dekade tidak ada misi ke tetangga terdekat kita itu. Wahana Venus Express milik Eropa akan sampai di orbit Venus lima bulan mendatang guna melakukan observasi.
Misi itu bermaksud untuk mengungkap misteri mengenainya: Bagaimana planet yang awalnya sangat mirip dengan Bumi itu - dalam hal ukuran, massa, dan komposisi - telah berevolusi menjadi sesuatu yang sangat berbeda selama 4,6 milyar tahun.
Atmosfer Venus telah menyebabkan efek rumah kaca yang hebat, dimana panas Matahari yang masuk, tidak bisa keluar. Akibatnya permukaan planet menjadi sangat panas, rata-rata 467 derajat Celcius, cukup panas untuk melelehkan timah.
Atmosfer padat yang sebagian besar terisi karbon dioksida itu juga menimbulkan tekanan hingga 90 kali lebih besar daripada tekanan di Bumi.
Visi Eksotis

Venus Express dikirm ke Venus untuk meneliti atmosfernya
Nah, dengan mengambil contoh apa yang terjadi pada Venus, para ilmuwan berharap bisa mengetahui mekanisme perubahan iklim yang mungkin akan menimpa planet kita.
"Bumi bisa berevolusi menjadi seperti Venus, walau perubahannya tidak sama persis," kata Fred Taylor, Profesor Fisika di Universitas Oxford, Inggris. "Yang jelas kita mengarah pada kondisi dengan mekanisme serupa. Bahkan perubahan temperatur sedikit saja bisa menjadi bencana di Bumi."
Mempelajari Venus akan bisa membantu melakukan analisa model komputer guna meramalkan perubahan iklim yang bakal terjadi di Bumi. "Venus merupakan contoh hasil proses evolusi bagi kita," kata Andrew Coates, dari Laboratorium Ilmu Pengetahuan Ruang Angkasa Mullard, University College London, Inggris.
Hal lain yang unik di Venus adalah walaupun ia lebih dekat dengan Matahari, namun atmosfernya lebih reflektif. Sedikit saja cahaya yang masuk, dan sebagian besar dipantulkan.
"Venus sebenarnya menyerap lebih sedikit panas Matahari dibanding Bumi. Secara sepintas, kita mungkin akan berpikir kondisi di sana seharusnya tidak jauh berbeda," lanjut Coates. "Namun atmosfernya memerangkap panas yang hanya sedikit itu sehingga menjadikan permukaannya sama sekali tidak senyaman Bumi."
Tanah Misterius

Foto permukaan Venus yang diambil wahana Uni Soviet, Venera 13
Karena Venus tertutup awan buram setebal 25 kilometer yang menghalangi pandangan ke permukaannya, maka berbagai tafsiran digambarkan oleh para pengarang fiksi ilmiah jaman dahulu. Ada yang melukiskan permukaan Venus diselimuti hutan lebat, ada yang menduga berawa-rawa, dan ada yang menduganya sebagai lautan luas.
Itu sebelum wahana-wahana tanpa awak dikirim untuk menyelidikinya. Antara tahun 1961 dan 1989, AS dan Uni Soviet meluncurkan lebih dari 30 wahana ke Venus. Beberapa mencapai tujuannya, sebagian lagi tidak.
Wahana Mariner 2 milik AS adalah yang pertama berhasil terbang mendekati Venus tahun 1962. Ia mengabarkan tingginya suhu di permukaan planet tersebut.
Misi selanjutnya, memberi informasi mengenai ketebalan dan komposisi kimia lapisan awan di sana, serta beberapa data kondisi permukaan Venus.
Adapun wahana yang pertama kali mendarat di planet adalah Venera 7 milik Uni Soviet. Ia bertahan hingga 20 menit sebelum remuk karena tekanan tinggi dan suhu yang amat panas. Penerusnya, Venera 9, mengirimkan foto-foto pertama dari Venus.
Setelah itu dikirim juga beberapa wahana pengorbit yang melakukan survey radar, menembus awan tebal venus untuk memetakan permukaannya. Yang paling utama di antaranya adalah wahana Magellan milik NASA yang mengelilingi Venus delapan kali sehari antara tahun 1990 hingga 1994.
"Salju" metalik
Foto-foto Magellan menunjukkan permukaan "muda" dimana aktivitas vulkanisme telah menghilangkan jejak-jejak masa lalu. Gunung api dari berbagai jenis dan ukuran tersebar di dataran luas Venus. Mereka muncul karena desakan lava yang mengalir di perut planet.
Pertanyaannya, apakah dahulu Venus juga pernah memiliki permukaan yang dialiri air atau laut?
"Venus dilahirkan dengan kondisi seperti Bumi. Artinya di sana pernah ada air. Sebagian air mungkin berasal dari komet," kata Andrew Coates.
Apakah air tersebut sudah lama mendidih, menciptakan efek rumah kaca dan menjadikan Venus sebagai salah satu tempat paling gersang di tata surya? Itu masih menjadi dugaan.
Magellan juga mendapati bahwa dataran-dataran tinggi Venus sangat terang, memantulkan sinyal radar lebih baik dibanding wilayah rendah. Beberapa teori telah diajukan untuk menjelaskan fenomena itu, mulai dari adanya tanah lepas hingga adanya lapisan "salju" metalik di sana.
Diduga, di wilayah rendah yang lebih panas, sebagian logam akan menguap dan berubah wujud sebagai kabut logam. Namun di tempat yang lebih tinggi dan lebih dingin, kabut itu bisa mengembun menjadi lapisan tipis logam di permukaan tanah.
Dari apakah lapisan logam itu terbentuk, ada yang menyebutnya logam langka tellurium dan besi pyrit alias ’emas palsu’. Tapi penelitian terakhir yang dilakukan tim dari Universitas Washington di St Louis menyebut salju metalik itu lebih mungkin terbentuk dari sulfida timah atau bismuth.
Hujan asam
Awan yang sangat reflektif membuat Venus menyerap lebih sedikit cahaya Matahari dibanding BumiMenurut Fred Taylor, efek rumah kaca di Venus muncul dan dipengaruhi oleh vulkanisme. Gunung-gunung api aktif diperkirakan telah melepaskan sejumlah besar karbon dioksida ke atmosfer.
Uap air dari permukaan mungkin bereaksi dengan karbon dioksida memerangkap radiasi Matahari dan memanaskan planet. Perlu diketahui, uap air adalah gas rumah kaca yang lebih kuat dibanding karbon dioksida.
Matahari kemudian memisahkan air menjadi unsur-unsur penyusunnya, yakni hidrogen dan oksigen.
Tidak seperti Bumi, Venus tidak dilindungi medan magnet, sehingga partikel-partikel bisa dengan mudah lolos dari bagian atas atmosfernya. Ini membuat hidrogen yang ringan terlepas dari Venus, meninggalkan unsur lain yang lebih berat di planet.
"Di Bumi, jumlah karbon dioksida terkendali karena ia terlarut di permukaan air. Itu sebabnya di dasar laut kita mendapati endapan karbonat," jelas Dr Coates. "Kebalikannya di Venus tidak ada air dan tidak ada tempat tinggal bagi karbon dioksida, sehingga semua terlepas ke atmosfer."
Kini atmosfer Venus hampir seluruhnya (97 persen) terdiri dari karbon dioksida, dengan awan-awan yang mengandung butiran asam belerang dan senyawa klorin dan fluorin. Awan tersebut turun sebagai hujan asam yang disebut virga, namun menguap sebelum mencapai permukaan planet.
Sementara di bagian atas atmosfer, awan bergulung-gulung dengan kecepatan 300 kilometer/jam, akibat hembusan angin yang ganas.
Venus sendiri berotasi secara lambat dengan arah dari timur ke barat. Planet melakukan putaran atas sumbunya sekali setiap 243 hari Bumi. Artinya satu hari Venus sama dengan 243 hari Bumi.
Ini sesuatu hal yang aneh karena Venus mengelilingi Matahari dalam waktu 225 hari Bumi. Bila kita berada di sana, kita akan mempunyai kesan bahwa satu hari Venus akan lebih lama dibanding satu tahun.
Venus di masa mendatang
Saat ini para peneliti tidak tahu sampai kapan kondisi seperti yang sekarang ada di Venus akan berlangsung. Menurut salah satu teori, temperatur tinggi di permukaannya akan tetap stabil karena interaksi yang kompleks antara atmosfer dan mineral di bebatuan planet. Namun tentu saja harus ada kontak intensif antara atmosfer dengan permukaan Venus. Di pihak lain, bila kita menganggap pemanasan rumah kaca di sana disebabkan karena vulkanisme, maka kondisi Venus akan berubah dalam waktu yang relatif tidak lama.
"Pada titik tertentu, vulkanisme akan mati, seperti yang terjadi di Mars dahulu dan di beberapa bagian Bumi," kata Fred Taylor.
"Ketiadaan vulkanisme ini akan berpengaruh pada suhu dan tekanan di sana. Dengan matinya vulkanisme, tidak ada karbon dioksida yang ditambahkan ke atmosfer. Sungguh menarik membayangkan apa yang akan terjadi kemudian," lanjutnya.
Bila seperti itu kejadiannya, diramalkan kondisi ganas di Venus akan menjadi lebih jinak, dan planet itu akan menjadi lebih mirip Bumi.
"Mungkin lautan akan kembali bila ada cukup uap air untuk turun sebagai hujan. Dan bila laut kembali, karbon dioksida akan terlarut dan menghilang dari atmosfer."
"Pada akhirnya kita akan mendapatkan Venus yang mirip dengan apa yang dibayangkan orang-orang pada tahun 1950-an."
Uap air dari permukaan mungkin bereaksi dengan karbon dioksida memerangkap radiasi Matahari dan memanaskan planet. Perlu diketahui, uap air adalah gas rumah kaca yang lebih kuat dibanding karbon dioksida.
Matahari kemudian memisahkan air menjadi unsur-unsur penyusunnya, yakni hidrogen dan oksigen.
Tidak seperti Bumi, Venus tidak dilindungi medan magnet, sehingga partikel-partikel bisa dengan mudah lolos dari bagian atas atmosfernya. Ini membuat hidrogen yang ringan terlepas dari Venus, meninggalkan unsur lain yang lebih berat di planet.
"Di Bumi, jumlah karbon dioksida terkendali karena ia terlarut di permukaan air. Itu sebabnya di dasar laut kita mendapati endapan karbonat," jelas Dr Coates. "Kebalikannya di Venus tidak ada air dan tidak ada tempat tinggal bagi karbon dioksida, sehingga semua terlepas ke atmosfer."
Kini atmosfer Venus hampir seluruhnya (97 persen) terdiri dari karbon dioksida, dengan awan-awan yang mengandung butiran asam belerang dan senyawa klorin dan fluorin. Awan tersebut turun sebagai hujan asam yang disebut virga, namun menguap sebelum mencapai permukaan planet.
Sementara di bagian atas atmosfer, awan bergulung-gulung dengan kecepatan 300 kilometer/jam, akibat hembusan angin yang ganas.
Venus sendiri berotasi secara lambat dengan arah dari timur ke barat. Planet melakukan putaran atas sumbunya sekali setiap 243 hari Bumi. Artinya satu hari Venus sama dengan 243 hari Bumi.
Ini sesuatu hal yang aneh karena Venus mengelilingi Matahari dalam waktu 225 hari Bumi. Bila kita berada di sana, kita akan mempunyai kesan bahwa satu hari Venus akan lebih lama dibanding satu tahun.
Venus di masa mendatang
Saat ini para peneliti tidak tahu sampai kapan kondisi seperti yang sekarang ada di Venus akan berlangsung. Menurut salah satu teori, temperatur tinggi di permukaannya akan tetap stabil karena interaksi yang kompleks antara atmosfer dan mineral di bebatuan planet. Namun tentu saja harus ada kontak intensif antara atmosfer dengan permukaan Venus. Di pihak lain, bila kita menganggap pemanasan rumah kaca di sana disebabkan karena vulkanisme, maka kondisi Venus akan berubah dalam waktu yang relatif tidak lama.
"Pada titik tertentu, vulkanisme akan mati, seperti yang terjadi di Mars dahulu dan di beberapa bagian Bumi," kata Fred Taylor.
"Ketiadaan vulkanisme ini akan berpengaruh pada suhu dan tekanan di sana. Dengan matinya vulkanisme, tidak ada karbon dioksida yang ditambahkan ke atmosfer. Sungguh menarik membayangkan apa yang akan terjadi kemudian," lanjutnya.
Bila seperti itu kejadiannya, diramalkan kondisi ganas di Venus akan menjadi lebih jinak, dan planet itu akan menjadi lebih mirip Bumi.
"Mungkin lautan akan kembali bila ada cukup uap air untuk turun sebagai hujan. Dan bila laut kembali, karbon dioksida akan terlarut dan menghilang dari atmosfer."
"Pada akhirnya kita akan mendapatkan Venus yang mirip dengan apa yang dibayangkan orang-orang pada tahun 1950-an."

Tidak ada komentar:
Posting Komentar